KEPEMIMPINAN,
MANAJEMEN & ORGANISASI
A.
ORGANISASI
1. PENGERTIAN ORGANISASI
“ Organisasi adalah kumpulan orang –
orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang dilakukan berdasar atas
suatu aturan tertentu dan penjabaran fungsi pekerjaan secara formal “.
2.
Tujuan
i. Secara umum Agar proses pekerjaan
tercapai dengan cara diatur, disusun sehingga seluruh pekerjaan dapat
diselesaikan secara efektif dan efisien.
ii. Secara khusus sesuai dengan Bidang
dimana Organisasi bergerak contoh Bidang agama,sosial, ekonomi, dan Politik.
3. Manfaat
Agar pelaksanaan tugas dilakukan lebih baik
terkoordinir dan tujuan serta jalannya pekerjaan tercapai secara efektif dan
efisien.
4.
Asas / prinsip organisasi
–
Asas – asas : prinsip perumusan dan
penentuan tujuan, prinsip pembagian kerja, prinsip pendelegasian wewenang,
prinsip organisasi, prinsip efisiensi sederhana, prinsip pengawasan umum.
5.
Struktur Organisasi
1. Struktur Organisasi Garis Digunakan pada
perusahaan / lembaga yang sederhana / kecil
2. Struktur Organisasi Fungsional Susunan
organisasi yang memberikan gambaran pembagian tugas dan wewenang menurut fungsi
pekerjaan.
B.
PENGERTIAN MANAGEMEN SECARA UMUM
“
Managemen yaitu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan. perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
pengendalian / pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang
ditetapkan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya “.
C.
PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Pimpin artinya
bimbing, tuntun. Memimpin
artinya ‘membimbing, menuntun dan menunjukan. Pemimpin atau leader ;
ialah orang yang memimpin atau seseorang yang mempergunakan wewenang dan
mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai
tujuan organisasi. Beberapa ahli tentang pemimpin, di antaranya :
Menurut
Prof Dr H Arifin Abdurrahman. Pemimpin “ adalah orang yang dapat menggerakkan
orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk mengikuti jejak pemimpin itu.”
Kepemimpinan
adalah kata benda
dari pemimpin. Kepemimpinan
mempunyai beberapa pengertian, di antaranya :
a. Cara seorang pemimpin mempengaruhi
prilaku bawahannya agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk
mencapai tujuan organisasi.
b. Seni untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, kemampuan untuk membimbing orang-orang yang ada di sekelilingnya.
c. Seni untuk mengkoordinasikan dan memberi
motivasi kepada individu dan kelompok guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Dan
sukses tidaknya seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya, tidak
terutama ditentukan oleh
tingkat keterampilan tehnis (technical skills) yang dimiliknya, akan
tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk
bekerja dengan baik (managerial skills).
D. FUNGSI – FUNGSI PIMPINAN DI DALAM MANAGEMEN
Fungsi manager dalam managemen secara
menyeluruh :
(1).
Planing atau perencanaan Merencanakan
kegiatan yang hendak dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(2). Organising atau pengorganisasian Menyusun,
menentukan, menetepkan, jenis tugas dan kewajiban setiap fungsi.
(3). Staffing atau penyusunan staf Penyusunan dan
penetapan serta pengembangan meliputi kegiatan mulai merekrut pegawai, usaha
memanfaatkan, mengembangkan sampai mendayaguna secara maksimal.
(4).
Directing atau pengarahan Memberikan komando, mengerakkan dengan memberi
perintah, juga memberikan kepemimpinan kepada bawahan supaya dapat melaksanakan
tugas secara efektif dan efisien.
(5). Coordinating atau pengkoordinasian Yaitu
mengkoordinir seluruh pekerjaan diantara pekerjaan yang satu dengan yang lain
merupakan totalitas.
(6). Controlling atau pengawasan Usaha untuk
memberikan penilaian, koreksi, evaluasi atas semua kegiatan dan secara terus –
menerus melakukan monitoring baik pekerjaan yang sedang dilakukan ataupun
pekerjaan yang sudah dilakukan.
E.
KEMAMPUAN SESEORANG DALAM FUNGSI
MANAJEMEN
Untuk dapat menghadapi
tantangan-tantangan Lingkungan dan perubahan Paraigma tersebut seorang
manager/Pimpinan sebuah organisasi harus memiliki tiga kemampuan manajemen yang
mencakup :
1. Kemampuan teknik (technical)merupakan
kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan khusus atau keahlian.
2.
Kemampuan Manusiawi (human) Merupakan
kemampuan untuk bekerja dengan, mengerti dan memotivasi orang lain baik
individu maupun kelompok.
3. Kemampuan Konseptual (conceptual) merupakan kemampuan mental untuk menganalisis
dan mendiagnosis situasi yang kompleks.
Tugas
seorang Pimpinan / Manajer pada hakekatnya adalah bekerja dengan dan melalui
orang lain (atasan, bawahan, atau rekan sejawat). Di dalam melaksanakan tugas
tersebut seringkali masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang Pempinan/manajer
adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan “ Mengatur Orang “.Artinya,
kepemimpinan di dalam suatu organisasi hanya efektif jika kepemimpinan itu
diterima oleh orang lain yang disebut bawahan.
F.
SIFAT-SIFAT PEMIMPIN YANG BAIK DAN IDEAL
1.
Memiliki kondisi fisik yang sesuai dengan tugasnya. Tugas kepemimpinan tertentu
menuntut sifat kesehatan tertentu pula.
2.
Berpengetahuan luas. Berpengetahuan luas tidak
selalu diidentikan dengan berpendidikan tinggi. Ada sekelompok orang
yang meskipun pendidikannya tinggi tetapi pandangannya masih sempit, yaitu
tidak terbatas pada bidang keahliannya saja.
3.
Mempunyai keyakinan bahwa organisasi akan berhasil mencapai lujuan yang
telah ditentukan melalui
dan berkat kepemimpinannya.
Kepercayaan pada diri sendiri merupakan modal yang sangat besar dan penting
artinya bagi pemimpin.Tanpa keyakinan itu dalam tindakannya akan kelihatan
ragu-ragu.
4.
Memiliki stamina (.daya kerja) dan etos kerja yang tuntas. Pemimpin tidak
mengenal lelah, dengan sikap ini pekerjaan yang rutin tidak menjadikan pemimpin
semakin lemah tetapimenjadikannya semakin gigih karena kreativitasnya senantiasa
ditantang.
5.
Gemar dan cepat mengambil keputusan. Karena tugas terpeming dan seorang
pemimpin adalah untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan oleh orang
lain, maka ia harus mempunyai keberanian mengambil keputusan dengan cepat,
terutama dalam keadaan darurat yang tidak dapat menunggu.
6.
Obyektif dalam arti dapat menguasai emosi dan lebih banyak mempergunakan rasio.
Seorang pemimpin yang emosional akan kehilangan obyektifitasnya karena
tindakannya lidak didasarkan pada akal sehat.
7.
Adil dalam memperlakukan bawahan. Yang dimaksud dengan “keadilan” di sini.
ialah kemampuan memperlakukan bawahan atas dasar kapasitas kerja bawahan itu,
terlepas dari pandangan kedaerahan, kesukuan, ikatan keluargan dan lain
sebagainya.
8.
Menguasai prinsip-prinsip human relation. Karena human relation adaiah inti
kepemimpinan, maka seorang pemimpin yang baik harus dapat
memusatkan perhatian, tindakan
dan kebijaksanaannya kepada pembinaan kerja tim yang intim dan harmonis.
9.
Menguasai teknik-teknik berkomunikasi. Berkomunikasi dengan pihak lain dan
bawahan. sesama atasan dan pihak luar baik lisan maupun tulisan sangat penting
karena melalui saluran-saluran komunikasilah instuksi, nasehat, saran, ide dan
lain-lain disampaikan.
10.
Dapat dan mampu bertindak sebagai penasihat, guru dan kepala terhadap
bawahannya tergantung atas situasi dan masalah yang dibadapi.
G.
TIMBULNYA PEMIMPIN YANG BAIK
Mengenai
timbulnya seorang pemimpin o]eh para ahli teori kepemimpinan telah dikemukakan
beberapa teori yang berbeda-beda. Namun demikian apabila berbagai teori itu
dianalisa akan terlihat adanya tiga teori yang menonjol.
1.
Teori Genetis
Para penganut teori ini mengetengahkan
pendapat yang mengatakan bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia
telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan. Teori ini berpendapat bahwa
pemimpin itu dilahirkan (leaders are born). Dalam keadaan yang bagaimanapun
seorang ditempatkan, karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, satu kali
kelak ia akan muncul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara
filosofis pandangan ini tergolong kepada pandangan yang fatalistis dan
deterministis.
2.
Teori Sosial
Merupakan kebalikan inti teori
genetis. Teori ini berpendapat bahwa pemimpin itu dibentuk dan ditempa (leaders
are made). Teori ini menganut paham egalitarianistik, oleh karenanya para
penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang
bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3.
Teori Ekologis
Karena kedua teori di atas tidak
seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi kepada kedua teori
tersebut timbullah teori ketiga yang disebut teori ekologis yang pada intinya
berarti bahwa seorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik bila ia
pada waktu lahimya telah memiliki
bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat itu kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk
mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang telah dimiliki itu.
E.
TIPE-TIPE PEMIMPIN
1.
Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ialah
seorang pemimpin yang :
a. Menganggap organisasi sebagai milik
pribadi.
b. Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan
organisasi.
c. Menganggap bawahan sebagai alat
semata-mata.
d. Tidak mau menerima kritik, saran dan
pendapat.
e. Terlalu bergantung kepada kekuasaan
formalnya.
f. Dalam tindakan penggerakannya sering
mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat
menghukum)
2.
Tipe Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis
memiliki sifat-sifat:
a. Sering mempergunakan sistem perintah dalam
menggerakkan bawahannya.
b. Senang bergantung pada pangkat dan jabatan
dalam menggerakkan bawahannya.
c.
Senang kepada formalitas yang
beriebih-lebihan.
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahan.
e. Sukar menerima kritikan dari bawahan.
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai
acara dan keadaan.
3.
Tipe Paternalistis
Seorang
pemimpin yang patemalistis ialah seorang yang :
a. Menganggap bawahannya sebagai manusia
yang tidak dewasa.
b. Bersikap terlalu melindungi.
c. Jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengambil keputusan dan inisiatif.
d. Jarang i-nemberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya.
e. Sering bersikap maha tahu.
4.
Tipe Kharismatis
Hingga
kini para pakar belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin
memiliki kharisma. yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai
daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang
jumlahnya sangat besar, Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab
seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan bahwa pemimpin
yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers).
5.
Tipe Laissez Faire
Seorang
pemimpin yang bertipe laissez faire adalah seorang yang bersifat :
a. Dalam memimpin organisasi biasanya
mempunyai sikap yang permisif. dalam arti bahwa para anggota organisasi boleh
saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan bisikan hati nuraninya asal saja
kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai.
b. Bahwa pada umumnya organisasi akan berjaian
lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari
orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan
organisasi, sasaran-sasaran apa yang dicapai dan tugas apa yang harus
ditunaikan oleh masing-masing anggota.
c. Seorang pimpinan yang tidak terlalu sering
melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional.
d. Seorang pemimpin yang cenderung memilih
peranan pasif dan membiarkan organisasi berjaian dengan sendirinya tanpa banyak
mencampuri bagaimana organisasi berjalan.
Pemimpin
yang bertipe ini sering dianggap sebagai seorang penumpin yang kurang memiliki
rasa tanggungjawab yang wajar terfiadap organisasi yang dipimpinnnya.
6.
Tipe Demokratis
Untuk tipe pemimpin demokratis adalah
yang bersifat:
a. Dalam proses penggerakan bawahan
selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah mahluk yang termulia
di dunia. Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi
dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya.
b. Senang menerima saran, pendapat bahkan
kritik dari bawahannya.
c. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama
dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan.
d. Selalu berusaha untuk menjadikan
bawahannya lebih sukses daripadanya.
e. Berusaha mengembangkan kapasitas diri
pribadinya sebagai pemimpin.
f. Para bawahannya dilibatkan secara
aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran sertanya dalam proses
pengambilan keputusan.
Kepemimpinan
tipe ini adalah kepemimpinan yang ” Menerapkan empat gaya kepemimpinan
berdasarkan ukuran/persepsi tentang kemauan dan kemampuan orang yang dipimpin.
Empat gaya tersebut adalah:
a. Instruksi, untuk bawahan yang tingkat
kemauan, kemampuan, keyakinan dan pengetahuannya rendah atau tidak ada sama
sekali.
b. Konsultasi, untuk bawahan yang
kemampuannya rendah tetapi kemauannya tinggi. Cara ini dengan mengarahkan,
mendukung dan melakukan komunikasi dua arah.
c. Partisipasi, untuk hawahan yang
kemampuan. pendidikan, pengetahuan dan pengalamannya tinggi tapi motivasi dan
keyakinannya rendah. Model inj adalah penerapan gaya kepemimpinan dengan
mendukung dan saling tukar ide tanpa mengarahkan.
d. Delegasi, untuk bawahan yang tingkat
kematangannya tinggi, kemauan dan kemampuannya dapat diandalkan. Model ini
tidak berarti pemimpin tidak bertanggungjawab, tetapi mengajarkan kepada
bawahan bagaimana caranya bertanggung jawab.
F.
PEMIMPIN FORMAL DAN INFORMAL
Selain
tipe kepemimpinan juga terdapat jenis kepemimpinan. Jenis kepemimpinan ada dua
macam, pemimpin formal (formal leaders) dan pemimpin informal (informal
leaders):
1. Pemimpin formal : Orang yang secara resmi
diangkat dalam jabatan kepemimpinan, diatur dalam organisasi secara hierarki
dan tergambar dalam suatu bagan yang tergantung dalam tiap-tiap kantor.
Pemimpin ini sering dikenal dengan sebutan “kepala
2. Pemimpin informal : Seorang yang karena
latar belakang pribadi yang kuat mewarnai dirinya. memiliki kualitas subyektif
atau obyektif yang memungkinkannya tampil dalam kedudukan di luar struktur
organisasi resmi namun ia dapat mempengaruhi kelakuan dan tindakan suatu
kelompok masyarakat, baik dalam arti positif maupun negatif. Dalam Islam
pemimpin informal adalah Ulama, Ustadz ,Kyai, atau tokoh masyarakat.
G.
Efektifitas Individu, Kelompok, dan Organisasi
Efektifitas dapat diartikan sebagai sebuah
prestasi (perfomance) Individu, Kelompok, dan organisasi. Semakin berprestasi
seseorang, Kelompok ataupun organisasi,
semakin menunjukkan efektivitasnya. Analisis terhadap perilaku Organisasional
(organizational befavior) terdiri dari tingkatan (level) yaitu Individu,
Kelompok, dan organisasi.
Perspektif
Terhadap Efektifitas dapat diidentifikasi menjadi efektifitas
Individu,kelompok, dan organisasi. Penyebab Efektifitas è tidak lain adalah
adanya Individu, Kelompok, dan organisasi.
